Thursday, 28 August 2008

Tidak Semua Komik Cocok untuk Anak-anak


Jumat, 1 Agustus 2008 | 17:55 WIB

JAKARTA, JUMAT - Komik asing tetap menjadi yang terfavorit bagi sebagian besar anak-anak. Padahal, tidak semua komik diperuntukkan untuk anak-anak. Hal ini perlu disikapi oleh para orangtua.

Demikian dituturkan Koordinator Acara Festival Bercerita ASEAN dan Seminar Cerita Rakyat ASEAN Tety Elida (41)di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta, Jumat (1/8). Acara yang diselenggarakan dari tanggal 31 Juli-4 Agustus 2008 ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 20 tahun Kelompok Pecinta Bacaan Anak (KPBA).

"Para orangtua harus selektif dalam memilihkan bahan bacaan yang berguna untuk anaknya, " tutur alumni Institut Pertanian Bogor ini. Menurutnya, secara kasat mata, bagian komik Jepang di toko buku memang selalu dipenuhi oleh anak-anak.

Menurutnya, tidak semua komik Jepang layak dibaca oleh anak-anak. Misalnya komik-komik yang banyak menampilkn adaegan kekerasan.(C9-08)


Membaca Harapan dan Potensi Lewat Komik


Dari www.kompas.com

Sabtu, 16 Februari 2008 | 18:12 WIB

AKU telah menyesal dengan apa yang telah diperbuat. Aku telah merugikan orang lain..... Yang lebih aku sesali, aku telah mengecewakan kedua orang tuaku...... Kini aku sadar. Aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya....... I love u Ibu...

BEGITULAH ungkapan penyesalan Hamdan (17), seorang anak penghuni rumah tahanan di Lembaga pemasyarakatan (Lapas) Anak Tangerang. Tidak diungkapkan langsung di hadapan ibunya memang, tetapi hanya di atas kertas.

Ya... ungkapan penyesalan dan tekah hati untuk memperbaiki diri itu ia tuangkan dalam sebuah komik yang terpajang di salah satu sisi Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM) sejak Kamis (14/2) lalu.

Sosok lelaki di komiknya yang sedang duduk sambil menutupi kepala dengan kedua tangannya mempertegas nada penyesalan yang ingin ditekankan Hamdan melalui komiknya tersebut.

Kecintaanya terhadap ibundanya, menjadikan ia sangat sedih karena telah menyakiti orang yang paling disayangi dengan keterlibatannya dalam dunia narkoba di usianya yang terbilang muda.

Yang patut dihargai, dalam komik itu Hamdan tidak semata menyesali diri, tetapi jugha berjanji untuk bangkit lagi. Ia akan memperbarui hidup agar lebih baik. Semuanya demi cinta dan sayangnya pada sang bunda,

Penuh pengharapan

Komik karya Hamdan itu bukan satu-satunya komik hasil karya anak-anak Lapas Anak Tangerang. Ada 76 karya lain serupa, yang mengekspresikan beragam perasaan dan harapan anak-anak Lapas Tangerang yang dituangkan dalam komik.

Selain sebagai ajang menunjukkan kreativitas, pameran komik bertema "harapan" kali ini menampilkan harapan-harapan anak-anak Lapas di waktu yang akang datang saat mereka telah menghirup udara bebas. "Komik ini menjadi ajang curhat berbagai perasaan anak-anak. Melalui kegiatan ini mereka bisa mengidentifikasikan dirinya dan juga orang lain guna melatih kepekaan," kata Rahman Saleh, Koordinator Kegiatan Komik Lapas Anak (Kolaps).

Pria yang lebih akrab disapa Maman ini menuturkan, komik bisa jadi media terapi yang bagus buat anak-anak. Melalui karya seni ini, anak-anak bisa mengekspresikan perasaan dan juga berbagai harapan mereka yang mungkin selama ini belum bisa terungkapkan. Selain itu, sebagai pembina, ia dan teman-temannya bisa memetakan keinginan anak-anak binaan mereka sehingga membantu dalam proses pendampingan selanjutnya.

Selain itu, pameran komik yang telah digelar sejak 14 Februari lalu dan berlangsung selama tiga hari ini ingin mengungkapkan kepada masyarakat bahwa anak-anak Lapas punya potensi yang bagus untuk dikembangkan. Setidaknya, potensi dan nilai lebih yang mereka punya dapat menghilangkan stigma masyarakat yang buruk terhadap mereka.

"Mereka punya potensi, tidak kalah dengan masyarakat. Selain itu pameran ini diharapkan menghilangkan stigma masyarakat yang buruk. Stigma-stigma itu sangat mempengaruhi mereka sebelum meninggalkan Lapas," kata F Haru Tamtono, Kepala Lapas Anak Tangerang.

Puluhan komik yang terpajang sebagian besar mengandung harapan dari anak-anak lapas agar bisa keluar dari lapas dan bisa diterima oleh masyarakat sekitar serta menggapai impian mereka melalui 'cara hidup yang baru'.

Omen, misalnya, dalam komiknya menggambarkan dengan jelas keinginannya untuk bisa foto bersama ibunya yang "sudah naik haji". Ia ingin sukses dalam pendidikannya, mempunyai pekerjaan sendiri, dan mengumpulkan uang agar ibunya bisa pergi naik haji.

Deni Susanto, anak Lapas lainnya, ingin berkumpul bersama anggota keluarganya di Palembang. Syukurlah, bahwa mereka tidak sendirian.

Harapan yang 'membakar' motivasi diri mereka tersebut akan didukung dengan niat baik dan kemauan besar para pembinanya yang mendampingi mereka secara maksimal dengan pendekatan yang intensif agar saat keluar, mereka sungguh-sungguh menjadi manusia sebagai mana terungkap dalam 'komik harapan' mereka tersebut. Saat mereka telah siap memulai hidup baru yang lebih baik, masyarakat pun diharapkan turut mendukung.

"Stigma itu harus dihilangkan. Terlalu dini untuk menilai mereka karena masih anak-anak," kata Herman Mustamin, Koordinator Pusat Pelibatan Masyarakat (PPM), yang turut mendampingi anak-anak Lapas. (http://www.kompas.com/read/xml/2008/02/16/18124312/membaca.harapan.dan.potensi.lewat.komik)

Manfaatkan Komik, Anak Pun Berkembang


Dari www.kompas.com

Rabu, 27 Agustus 2008 | 17:00 WIB

KOMIK adalah bacaan yang sangat popular. Banyak anak menyukai jenis bacaan ini. Mengapa anak menyukai komik bukanlah suatu pertanyaan yang sulit dijawab. Bagi anak komik sangat menarik karena penuh dengan gambar. Hal ini membuat komik menjadi begitu mudah untuk dipahami, bahkan oleh anak yang belum fasih membaca. Perpaduan banyak gambar dengan sedikit teks pada komik juga membuat anak tidak perlu mengerahkan daya konsentrasi tinggi untuk memahami isi ceritanya. Anak-anak bisa merasa rileks ketika menikmati ulah tokoh-tokoh dalam komik.

Begitu gemarnya anak dengan komik bahkan ada yang sampai kecanduan. Setiap ada kesempatan dihabiskan untuk membaca komik. Jika sudah membaca, mereka sulit dialihkan kegiatannya. Banyak aktivitas tertunda. Mereka jadi malas mandi, malas makan, malas mengerjakan tugas rumah, malas belajar, dst. Hal ini tentu saja menimbulkan masalah. Anak jadi kurang bisa mengendalikan diri. Sering pula terjadi, anak jadi meniru semua kebiasaan si tokoh dalam komik. Jika yang ditiru adalah kebiasaan baik, maka tidak ada masalah. Namun berbeda jika anak menjadi meniru kebiasaan buruk.

Di sisi lain, sebenarnya komik juga memiliki dampak yang positif. Dengan membaca komik, anak dapat berkembang imajinasinya. Selain itu, menurut Hurlock (1978), komik dapat memberikan model yang dapat digunakan untuk mengembangkan kepribadian anak.

Menyikapi pro kontra dampak komik di atas, ada beberapa hal yang sekiranya dapat dipertimbangkan untuk dilakukan oleh orang tua. Pertama, dampingi dan tumbuhkan sikap kritis pada anak ketika mereka membaca komik. Buka diskusi dengan akan mengenai isi cerita dalam komik yang dibacanya. Tanyakan kepada anak siapa tokoh yang disukai atau tidak disukai dan mengapa ia menyukai atau tidak menyukainya. Ajak pula anak untuk menilai dan mengkritik hal-hal yang relevan dengan kehidupan nyata. Misalnya mana yang baik dan buruk, mana yang layak ditiru dan mana yang tidak, dst.

Kedua, pilih komik yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak dan berikan komik dengan tema cerita yang bervariasi. Variasi tema ini dapat memberikan tambahan wawasan pengalaman yang beragam bagi anak.

Ketiga, seimbangkan antara kebutuhan berkebiatan pasif dan aktif. Membaca komik adalah jenia kegiatan pasif yang membuat anak tidak banyak bergerak, sedangkan kegiatan aktif adalah jenis kegiatan yang banyak menggerakkan tubuh. Kegiatan aktif akan mengembangkan kemampuan psikomotorik anak, sedangkan kebiasan membaca yang pasif ini lebih banyak menstimulasi kognisi intelektual anak. Maka agar psikomotorik maupun kognisinya berkembang, anak perlu dibiasakan untuk melakukan kedua jenis kegiatan tersebut secara seimbang.


M.M. Nimas Eki Suprawati, Psi., M.Si, dosen psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
(Disalin dari http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/27/17003571/manfaatkan.komik.anak.pun.berkembang)

Wednesday, 27 August 2008

Komikisasi


Waktu kecil dulu,, saya ingat sering dibelikan komik oleh Ayah. Komik Donal Bebek,, Disney tepatnya,,,. Waktu itu masih belum ada komik-komik Jepang seperti sekarang,, yang ada baru Komik Disney,, serta komik komik lokal seperti si Buta dari Goa Hantu,,, Jaka Sembung,, dll. Sekarang,, bertahun-tahun setelahnya,,. Komik sudah bukan lagi fiksi melulu,,, komik sekarang sudah digunakan sebagai bahan promosi,, dokumentasi,,, dll. Kalau kita Jalan - jalan di gramed ato gunung agung, akan banyak kita jumpai biografi seorang tokoh dalam bentuk komik,, cerita sejarah dll. Seiring dengan berkembangnya kebutuhan, komik juga berkembang nilai gunanya. Bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi pun, mengeluarkan komik untuk mensosialisasikan gerakan anti korupsi di negara ini. Asalkan digunakan untuk hal positif, tentu saja sebagai pecinta komik kita mendukung perkembangan tersebut. tul ga temen2,,?

Thursday, 14 August 2008

Journey to Sampit



Ketemuan di Cengkareng dengan teman se tim, kita berangkat menuju Palangkaraya, lamanya perjalanan kira-kira satu setengah jam. Nyampai Bandara Tjilik Riwut (ejaannya masih gitu yak,,) sekitar jam sepuluh pagi. Kita segera menuju travel yang telah kami pesan sebelumnya. Perjalanan pun dimulai, Rute Palangkaraya-Sampit,. Satu kata yang bisa melukiskan perjalanan tersebut? Hutan,,, hehehe. Tidak seperti di Jawa, jarak antar kota di Kalimantan cukup jauh. Akhirnya sore hari, kita sampai di Sampit,. Kota dengan sungai besar yang mengalir kelaut, jadi ada pelabuhan kapal-kapal disana. Beberapa hari kita habiskan disana,, Toko komiknya gimana? hehehe... setelah keliling kota, ternyata ada swalayan, yang didalemnya ada toko buku (kalo ga salah toko buku Prisma namanya,,) yang menjual komik....

Monday, 21 July 2008

Di Sampit ada Toko komik nggak yaaa.....

Hari senin minggu depan, dapet tugas ke sampit dari kantor. "Wuih,, jauh amat" batinku waktu pertama kali mendengarnya. Sampit, kota di Kalimantan, yang kapan hari sempat membooming karena ada kerusuhan,,,,. "Bisa baca komik nggak ya disana,, hihihi". Ada gramed atau gunung agung ngga ya,,,,, atau bawa komik dari sini aja buat jaga-jaga untuk mengisi waktu luang disana?

Mulailah mencari informasi mengenai kota Sampit, penerbangan ternyata transit dahulu di palangkaraya. Setelah itu perjalanan ditempuh via darat. Menurut temen yang ada disana,, kayanya ngga ada deh gramed,, hihihi brarti siap-siap bawa komik nih :D

Wednesday, 16 July 2008

Komik Lokal


Kalau kita lagi jalan ke gramed, atau gunung agung, pasti langsung banyak kita temui komik-komik yang bertebaran. Spongebob,, Naruto,, Tintin,, dll. Komik-komik manca itu begitu mendominasi toko-toko buku di sini,,. Kadang-kadang tuh,, aku nanya sendiri nih dalam hati , "Kapan ya komik-komik kita akan jadi raja di negeri sendiri?". Perilaku pembaca komik sekarang juga cenderung lebih terpengaruh tokoh-tokoh komik luar negeri. Anak-anak kecil pada beli baju Naruto,,, beli boneka doraemon,,, dst.

Coba kita tengok Jepang,, Negara yang jadi penyumbang komik terbesar di Indonesia. Di negara ini, terdapat semacam kejuaraan atau kompetisi komik tiap tahun, dimana ajang ini telah menyumbang banyak komik yang diterbitkan, termasuk di Indonesia. Komikus juga disana merupakan profesi yang populer. Siapa yang tak kenal sama Takeshi Maekawa, Aoyama Gosho, dll. :D. Mungkin hal-hal diatas adalah beberapa hal yang membuat komik-komik kita tertinggal dibanding komik-komik Jepang. Harapan,,,,, tentu saja segera muncul komik-komik lokal yang jadi raja di negeri sendiri, hingga para pembaca kita ngga perlu ngebayangin hidup di Jepang,, atau ngebayangin budaya serta kultur yang beda dengan kehidupan kita sehari-hari disini.